![]()
Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan kegiatan benchmarking dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai bagian dari upaya strategis dalam memperkuat implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), khususnya pada aspek digitalisasi Audit Mutu Internal (AMI) dan pengembangan sistem AMI yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Merdeka Belajar (SIMEKAR) UPGRIS. Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran institusional terhadap praktik baik (best practices) yang telah dikembangkan UGM dalam tata kelola penjaminan mutu berbasis teknologi informasi.
Benchmarking dilaksanakan pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di Ruang Senat Gedung Pusat Lantai 5 Universitas PGRI Semarang, dengan melibatkan unsur pimpinan universitas, LPM, UPT Teknologi Informasi, serta mitra pengembang sistem informasi. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan komitmen UPGRIS dalam membangun sistem penjaminan mutu yang terintegrasi, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai kebijakan dan implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di UGM. Tim penjaminan mutu UGM menjelaskan mekanisme pengelolaan Audit Mutu Internal berbasis digital yang telah diterapkan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan audit, penyusunan instrumen sesuai kebutuhan BAN-PT maupun LAM, pelaksanaan audit, pengelolaan data auditee, hingga penyusunan laporan dan monitoring tindak lanjut melalui sistem informasi yang terintegrasi. Implementasi tersebut menjadi contoh praktik pengelolaan mutu yang mendukung efisiensi proses, konsistensi pelaksanaan, serta keterlacakan data secara komprehensif.
Dalam sesi diskusi akademik, tim LPM UPGRIS melakukan kajian mendalam mengenai integrasi hasil Audit Mutu Internal dengan sistem manajemen institusi di UGM. Hasil benchmarking menunjukkan bahwa temuan audit, rekomendasi perbaikan, dan tindak lanjut dapat dipantau secara real time oleh pimpinan maupun unit kerja terkait sehingga AMI berfungsi sebagai instrumen strategis dalam pengendalian mutu dan pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based decision making). Selain itu, UGM telah mengembangkan mekanisme monitoring tindak lanjut yang sistematis melalui penetapan indikator capaian, penanggung jawab, serta target penyelesaian setiap rekomendasi hasil audit.
Benchmarking juga memberikan gambaran mengenai pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia dan budaya mutu dalam mendukung transformasi digital penjaminan mutu. UGM secara konsisten melaksanakan pelatihan auditor internal, pemutakhiran instrumen audit, serta penguatan komitmen seluruh unit kerja terhadap implementasi SPMI. Digitalisasi AMI tidak hanya dipandang sebagai transformasi teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi budaya organisasi yang mendorong peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Berdasarkan hasil benchmarking, LPM UPGRIS memperoleh berbagai referensi strategis untuk pengembangan sistem AMI yang terintegrasi dengan SIMEKAR. Beberapa rekomendasi yang menjadi perhatian meliputi penguatan digitalisasi seluruh tahapan PPEPP, integrasi sistem AMI dengan sistem informasi manajemen universitas, penyempurnaan regulasi internal, peningkatan kompetensi auditor dan pengelola sistem, serta optimalisasi pemanfaatan data hasil audit sebagai dasar penyusunan kebijakan dan perencanaan strategis universitas.
Ketua LPM UPGRIS menyampaikan bahwa kegiatan benchmarking ini menjadi langkah penting dalam mendukung implementasi kebijakan nasional mengenai Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi sekaligus memperkuat tata kelola mutu yang berbasis data, transparan, dan berkelanjutan. Pengalaman yang diperoleh dari UGM diharapkan dapat diadaptasi sesuai karakteristik dan kebutuhan UPGRIS sehingga mampu meningkatkan efektivitas pelaksanaan Audit Mutu Internal serta memperkuat budaya mutu di seluruh unit kerja.
Melalui kegiatan benchmarking ini, LPM Universitas PGRI Semarang menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Internal yang inovatif, terintegrasi, dan selaras dengan perkembangan teknologi informasi serta kebijakan nasional. Sinergi antarlembaga pendidikan tinggi diharapkan dapat menghasilkan inovasi tata kelola penjaminan mutu yang mampu mendukung peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Laporan Benchmarking